Friday, 18 August 2017

Contoh Laporan Magang Mahasiswa Jurnalistik

Beberapa tulisan hasil magang yang penulis rangkum dalam satu karya jurnalistik.

Jurnalistik merupakan salah satu konsentrasi dari studi Ilmu Komunikasi. di Universitas Islam Negeri Riau Suktan Syarif Kasim Riau, Ilmu Komunikasi tergabung dalam Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Diperguruan tinggi berjuluk seribu kubah ini lah penulis menimba ilmu selama lebih kurang empat tahun untuk menyelesaikan program S1.

Sebelum menyelesaikan studi. sebagaimana diketahui mahasiswa melewati banyak rintangan yang harus di tempuh untuk satu tujuan yang satu, yakni Wisuda. Salah satu rintangan yang harus dihadapi mahasiswa diakhir masa studinya adalah  harus magang atau dikenal dengan Praktek Kerja Lapangan (PKL) sebelum menyusun sebuah cobaan yang bernama 'SKRIPSI'.

Memebahas soal magang atau PKL. penulis sedikit ingin berbagai contoh laporan magang. Siapa tahu ada mahasiswa Jurnalistik yang bingung. Makalahapalah mengulas laporan magang yang pernah dibuat semasa kuliah. 

Untuk diketahui laporan magang memiliki beberapa bagian diantaranya;
1. Cover
2. Lampiran, dan
3. Laporan Magang

             1. Cover

LAPORAN MAGANG


JOB TRAINING
HARIAN SURAT KABAR PEKANBARU POS




OLEH:
 RYAN EDI SAPUTRA
11043101794



KONSENTRASI JURNALISTIK
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM
RIAU
2014

LEMBARAN PENGESAHAN


1.    Nama                                             : RYAN EDI SAPUTRA
2.    Nomor Induk Mahasiswa                         : 11043101794
3.    Program Studi                               : Ilmu Komunikasi
4.    Bidang Konsentrasi                      : Jurnalistik
5.    Lama Job Training (Magang)        : 1 Oktober 2013 s/d 1 Desember 2013
6.    Instansi/Perusahaan                       : Media Harian Surat Kabar Pekanbaru Pos
7.    Sifat Praktek                                 : Praktek di luar dan dalam ruangan, sebagai wartawan





Pekanbaru, 15 Januari 2014

Mengetahui,
Pembimbing



FIRDAUS EL HADI S,Soc M, Si

Koordinator Liputan Pekanbaru Pos                                       Mahasiswa Magang



SAFARI AL ROYYAN                                                    RYAN EDI SAPUTRA

i

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur kami sampaikan atas kehadirat ALLAH SWT, karena berkat rahmat dan karuniannya saya dapat menyusun laporan kegiatan Magang ini. Kegiatan ini dimulai dari tanggal 03 Oktober – 03 Desember 2013.

Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga kegiatan magang ini dapat terselenggara dengan baik.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan laporan pelaksanaan kegiatan ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh sebab itu, saya juga ingin memohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang masih terdapat dalam laporan ini.
                       

Pekanbaru,  15  Januari 2014




                                                                                         RYAN EDI SAPUTRA



                                                     


ii



Daftar Isi:

Halaman Pengesahan ............................................................................. i
Kata Pengantar ...................................................................................... ii

Bab I               :  Pendahuluan
A.    Latar Belakang ..................................................... 1
B.     Tujuan Pelatihan .................................................. 2
C.    Manfaat Pelatihan ................................................ 2
D.    Waktu dan Tempat Pelaksanaan ........................ 4

Bab II             : Gambaran Umum Surat Kabar Haluan Riau ......... 5
Bab III            : Laporan Kegiatan ......................................................  9
Bab IV            : Kesimpulan ..................................................................  13
Lampiran Lampiran

             2. Lampiran 

BAB III
LAPORAN KEGIATAN

DAFTAR LAPORAN HARIAN MAHASISWA PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)
SURAT KABAR PEKANBARU POS

NAMA/NIM                          : RYAN EDI SAPUTRA/11043101794
FAKULTAS/JURUSAN     : Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi/Ilmu Komunikasi
NAMA MEDIA                    : Pekanbaru Pos
ALAMAT                              : Jl. KH. Ahmad Dahlan No.14 C
PAMONG                              : Safari Al Royyan
BULAN                                  : I (SEPTEMBER-OKTOBER)

No
Hari/Tanggal
Kegiatan
Target
Sasaran
Keterangan
1
Senin/03
Perkenalan dengan kepala seksi berita, kru dan tempat penempatan magang
Kantor Media
Lokasi

2
Selasa/04
Rapat Proyeksi dan Bimbingan Lapangan
Lapangan
Berita
Hasil berita dikumpul
3
Rabu/05
Rapat Proyeksi dan Bimbingan Lapangan
Lapangan
Berita
Hasil berita dikumpul
4
Kamis/06
Rapat Proyeksi dan Pencarian berita
Lapangan
Berita
Hasil berita dikumpul
5
Jum’at/07
Izin/Kuliah



6
Sabtu/08
Redaksi Akhir Minggu



7
Minggu/09
Rapat Proyeksi dan Bimbingan Lapangan
Lapangan
Berita
Hasil Berita Dikumpul
8
Senin/10
Rapat Proyeksi dan Pencarian berita
Lapangan
Berita
Hasil berita dikumpul
9
Selasa/11
Rapat Proyeksi Dan Pencarian Berita
Lapangan
Berita
Tetap Mengumpulkan berita
10
Rabu/12
Pencarian Berita
Lapangan
Berita
Tetap Mengumpulkan berita
11
Kamis/13
Pencarian Berita
Lapangan
Berita
Tetap Mengumpulkan Tetap Mengumpulkan berita
12
Jum’at/14
Izin/Kuliah



13
Sabtu/15
Redaksi Akhir Minggu



14
Minggu/16
Pencarian Berita
lapangan
Berita
Hasil Berita dikumpul
15
Senin/17
Rapat Proyeksi dan Pencarian berita
Lapangan
Berita
Hasil berita dikumpul
16
Selasa/18
Pencarian Berita
Lapangan
Berita
      Mengumpulkan berita
17
Rabu/19
Pencarian Berita
Lapangan
Berita
Mengumpulkan berita
18
Kamis/20
Rapat Proyeksi dan Pencarian berita
Lapangan
Berita
Mengumpulkan berita
19
Jum’at/21
Izin/Kuliah



20
Sabtu/22
Redaksi Akhir Minggu



21
Minggu/23
Redaksi Akhir Minggu



22
Senin/24
Rapat Proyeksi dan Pencarian berita
Lapangan
Berita
Hasil berita dikumpul
23
Selasa/25
Pencarian Berita


Tetap Mengumpulkan berita
24
Rabu/26
Pencarian Berita


Tetap Mengumpulkan berita
25
Kamis/27
Pencarian Berita


Tetap Mengumpulkan berita
26
Jum’at/28
Rapat Proyeksi dan Pencarian berita
Lapangan
Berita
Hasil berita dikumpul
27
Sabtu/29
Redaksi Akhir Minggu



28
Minggu/30
Redaksi Akhir Minggu



29
Senin/01
Rapat Proyeksi dan Pencarian berita
Lapangan
Berita
Hasil berita dikumpul
30
Selasa/02
Pencarian Berita


Tetap Mengumpulkan berita

 

                                               





DAFTAR LAPORAN HARIAN MAHASISWA PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)
SURAT KABAR PEKANBARU POS

NAMA/NIM                          : RYAN EDI SAPUTRA/11043101794
FAKULTAS/JURUSAN     : Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi/Ilmu Komunikasi
NAMA MEDIA                    : Pekanbaru Pos
ALAMAT                              : Jl. KH. Ahmad Dahlan No.14 C
PAMONG                              : Safari Al Royyan
BULAN                                  : II (OKTOBER-NOVEMBER)

No.
Hari/Tanggal
Kegiatan
Target
Sasaran
Keterangan
1
Rabu/03
Pencarian Berita


Tetap Mengumpulkan berita
2
Kamis/04
Pencarian Berita


Tetap Mengumpulkan berita
3
Jum’at/05
Izin/Kuliah



4
Sabtu/06
Redaksi Akhir Minggu



5
Minggu/07
Pencarian Berita


Berita Di Kumpul
6
Senin/08
Rapat Proyeksi dan Pencarian berita
Lapangan
Berita
Hasil berita dikumpul
7
Selasa/09
Pencarian Berita


Berita Di Kumpul
8
Rabu/10
Pencarian Berita


Berita Di Kumpul
9
Kamis/11
Pencarian Berita


Berita Di Kumpul
10
Jum’at/12
Izin/Kuliah



11
Sabtu/13
Redaksi Akhir Minggu



12
Minggu/14
Redaksi Akhir Minggu



13
Senin/15
Rapat Proyeksi dan Pencarian berita
Lapangan
Berita
Hasil berita dikumpul
14
Selasa/16
Pencarian Berita


Tetap Mengumpulkan berita
15
Rabu/17
Pencarian Berita


Tetap Mengumpulkan berita
16
Kamis/18
Pencarian Berita


Tetap Mengumpulkan berita
17
Jum’at/19
Izin/Kuliah



18
Sabtu/20
Redaksi Akhir Minggu



19
Minggu/21
Pencarian Berita


Hasil Berita Di kumpul
20
Senin/22
Rapat Proyeksi dan Pencarian berita
Lapangan
Berita
Hasil berita dikumpul
21
Selasa/23
Peencarian Berita


Tetap Mengumpulkan berita
22
Rabu/24
Pencarian Berita


Tetap Mengumpulkan berita
23
Kamis/25
Pencarian Berita


Tetap Mengumpulkan berita
24
Jum’at/26
Izin/Kuliah



25
Sabtu/27
Redaksi Akhir Minggu



26
Minggu/28
Pencarian Berita


Berita Dikumpul
27
Senin/29
Rapat Proyeksi dan Pencarian berita
Lapangan
Berita
Hasil berita dikumpul
28
Selasa/30
Pencarian Berita


Tetap Mengumpulkan berita
29
Rabu/31
Pencarian Berita


Berita Dikumpul
30
Kamis/01
Makan Bersama, Maaf-maafn,pamit, dan rasa berterimakasih kepada kru Pekanbaru Pos




                                                                                                           
















BAB IV
PENUTUP



Kesimpulan

Job Training atau Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang telah saya lakukan yang diajarkan oleh pihak dewan redaksi sungguh efektif dan sangat bermanfaat bagi saya. Dimana saya bisa mengenal dunia Jurnalistik dengan sebenarnya. saya turun langsung kelapangan untuk mencari berita dan diajari bagaiman cara menghadapi narasumber untuk mendapatkan data dan mengolahnya menjadi sebuah berita yang baik.  Saya merasakan bagaimana kesesuaian antara teori yang selama ini saya dapati di bengku perkuliahan dan menerapkannuya dilapangan.
Banyak pengalaman yang saya rasakan ketika menjalani PKL, saya bisa membuka peluang dan mengasah kemampuan jurnalistik serta menjalin komunikasi yang efektif dan positif dengan narasumber maupun wartawan senior, banyak ilmu yang saya dapatkan bersama mereka ketika di lapangan dalam mencari informasi dan berita.
Seperti halnya kita bisa bertukar ilmu dan saling membantu menyelesaikan persoalan yang ada. Penulisan laporan umum praktek kerja lapangan (PKL)  yang saya buat ini merupakan suatu keseluruah mengenai aktivitas dan kegiatan yang saya lakukan selaku mahasiswa untuk melengkapi syarat menjadi sarjana natinya. Saya menulis deskripsi tentang keadaan lingkungan pekerjaan yang menjadi tempat penulis melaksanakan Job Training tau PKL yaitu di Media Surat Kabar Pekanbaru Pos. 
Penulis mengucapkan ribuan terimakasih kepada pihak fakultas yang dalam hal ini Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) yang telah memberikan saya kesempatan untuk melaksanakan Job Training, sehingga penulis dapat menimba ilmu lebih banyak lagi, tidak hanya teori yang penulis dapati di bangku perkuliahan tetapi praktek kelapangan juga sudah saya rasakan dan membawa banyak manfaat bagi penulis.

3.  Laporan Magang

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada era keterbukaan informasi dan perkembangan teknologi seperti saat sekarang  ini yang telah membawa perubahan yang sangat signifikan. Zaman telah begitu banyak mengalami perubahan dan perkembangan sehingga menuntut setiap individu agar memperhatikan kemampuan diri. Hal ini tidak dapat dihindarkan karena perubahan dan perkembangan terjadi diseluruh bidang. Oleh karena itu, perlu kepekaan diri yang kuat agar mampu menjadi professional yang berkompeten dibidangnya.
Dunia usaha sudah beberkembang pesat dan dengan tingkat persaingan yang sangat kompetitif, tenaga kerja dituntut memiliki kemampuan dibidangnya masing – masing, berdaya saing sebagai sumber daya manusia yang profesional. Faktor manusia merupakan unsur terpenting dalam pengoperasian teknologi tersebut walaupun secanggih apapun teknologinya.
Salah satu bidang yang berkembangnya sangat pesat adalah dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini didasari arti pentingnya komunikasi dan penyebaran informasi itu sendiri bagi kehidupan manusia. Manusia telah mengenal komunikasi sejak awal berada di dunia, manusia tidak dapat hidup tanpa kegiatan komunikasi.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, arus informasi dan kemajuan teknologi, maka sebagai manusia kita dituntut untuk mengetahui dan menguasainya. Oleh karena itu manusia harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut, agar sumber daya manusia tidak tertinggal dan bisa terus berpacu untuk memperbaiki kualitas diri demi kemajuan kehidupan manusia itu sendiri.
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi sebagai salah satu instasi pendidikan dituntut untuk terus mendukung dan mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) merupakan salah satu upaya untuk menghadapi tantangan nyata didunia kerja yang akan dihadapi. Sesuai kurikulum program studi Ilmu Komunikasi, mahasiswa diwajibkan menjalankan proses belajar melalui praktek kerja lapangan di suatu perusahaan atau instansi.
Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) merupakan salah satu bagian dan pelaksanaan kegiatan perkuliahan di UIN SUSKA RIAU, yang merupakan salah satu mata kuliah wajib yang dilaksanakan pada setiap akhir semester VII (7), karena hal ini menjadi syarat kelulusan di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Sesuai dengan tujuan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang mempersiapkan tenaga terampil yang diharapkan dapat terjun langsung kedalam dunia kerja dan usaha, untuk itulah Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi adalah mempersiapkan tenaga kerja siap pakai yang juga menguasai teknologi canggih yang berkembang pada saat ini.
Prktek Kerja Lapangan ( PKL ) dilaksanakan agar mahasiswa dapat menerapkan ilmu dan teori serta keterampilan yang diperoleh di bangku kuliah kedalam lingkungan kerja disamping itu juga untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi dunia kerja serta menjadi bekal sebelum terjun ke masyarakat atau dunia kerja sesungguhnya setelah lulus dari perkuliahan, hal ini dimaksud agar para mhasiswa tidak canggung dalam lingkungan kerja nantinya sehingga mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi diharapkan banyak mengambil manfaat dalam pelaksanaan PKL tersebut, dengan harapan agar mahasiswa mendapat pengalaman dan pengetahuaan baru yang belum pernah didapatkan serta bisa memperdalam bidang perminatan yang diinginkan.



B.     Tujuan Pelatihan
1.      Menurut Moekijat ( 1991 : 55 ) tujuan umum dari pada pelatihan  adalah : Untuk mengembangkan keahlian sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif.
2.      Untuk mengembangkan pengetahuan sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional
3.      Untuk mengembangkan sikap, sehingga menimbulkan kerja sama dengan teman – teman pegawai dan pimpinan. Pada umumnya disepakatipaling tidak terdapat tiga bidang kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan proses management Hersey dan Blanchart ( 1992 : 5 ) yaitu :
a.              Kemampuan teknis ( technical and skill ), kemampuan menggunakan pengetahuan, metode, teknik dan peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas tertentu yang diperoleh dari pengalaman, pendidikan dan training.
b.             Kemampuan sosial ( human or social skill ), kemampuan dalam bekerja dengan orang lain, yang mencakup pemahaman tentang motivasi dan penerapan kepemimpinan yang efektif.
c.              Kemampuan konseptual ( conceptual skill ), yaitu kemampuan untuk memahami kompleksitas organisasi dan penyesuaian bidang gerak unit kerja masing – masing kedalam bidang operasi secara menyeluruh. Kemampuan ini memungkinkan seseorang bertindak selaras dengan tujuan organisasi secara menyeluruh dari pada hanya atas dasar tujuan kebutuhan keluarga sendiri. Tujuan – tujuan tersebut diatas tidah dapat dilaksanakan atau dicapai kecuali apabila pimpinan menyadari akan pentingnya latihan yang sistematis dan karyawan – karyawan sendiri percaya bahwa mereka akan memperoleh keuntungan.
C.    Manfaat Praktek Kerja Lapangan
1.      Bagi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi
a.       Menjalin hubungan dan kerja sama antara Kantor Berita Harian Pekanbaru Pos dengan Fakultas Dakwah dan Ilmu komunikasi dan sebagai lembaga pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja dengan dunia kerja sebagai lembaga yang menggunakan tenaga kerja.
b.      Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional dengan tingkat pengetahuan, keterampilan dan etos kerja sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.
2.      Bagi Surat Kabar Riau Pos
a.       Memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk mencari pengalaman dalam dunia kerja,
b.      Menjalin hubungan silahturahmi antara mahasiswa dengan wartawan, pimpinan, dan seluruh kru dan karyawan Pekanbaru Pos.

D.    Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan selama 2 bulan yaitu dimulai tanggal 03 September – 01 November 2012 dan tepat pelaksanaan PKL di Surat Kabar Pekanbaru Pos yang beralamat di Jalan KH Ahmad Dahlan No.14 C Pekanbaru, Riau.






BAB II
GAMBARAN UMUM SURAT KABAR PEKANBARU POS

  1. Sejarah Surat Kabar Riau Pos
Surat kabar harian Pekanbaru Pos awalnya merupakan tabloid mingguan yang diberi nama  UTUSAN. Tabloid Utusan berdiri sejak tahun 1998 dengan tema Koran Masuk Desa (KMD) yang sasaran pembacanya adalah masyarakat pedesaan. Satu tahun kemudian, tahun 1999  tabloid  mingguan berubah menjadi Koran Harian dengan nama yang belum berubah yaitu Utusan. Karena tingginya minat baca, maka pada tanggal 1 Juli 2000 oleh manajemen perusahaan, koran Utusan dirubah menjadi Surat Kabar Pekanbaru Pos (Dokumentasi Pekanbaru Pos, 2010).
Berdirinya surat kabar Pekanbaru Pos untuk menghindari kejenuhan masyarakat terhadap berita politik yang tidak pernah usai. Berdasarkan alasan tersebut, manajemen Riau Pos Grup (RPG) akhirnya mendirikan sebuah media informasi yang khusus membahas tentang berita berita kriminal dan entertaintment yang terjadi di Riau dengan kantor yang beralamat di Jalan Raya Pekanbaru – Bangkinang KM 10,5 Pekanbaru dan bernaung dibawah bendera Riau Pos. Selanjutnya berdasarkan pertimbangan teknis, kantor sekretariat surat kabar  Pekanbaru Pos pindah kejalan KH Ahmad Dahlan No. 14 C Sukajadi Pekanbaru hingga kini.
Keputusan tersebut diambil redaksi  Suratt Kabar Pejanbaru Pos agar bisa lebih efektif, dan dekat dengan pueat kota, dengan demikina berita-berita utama perkotaan Pekanbaru dapat tercover lebih intensif. (Dokumentasi Pekanbaru Pos, 2010).
Nama surat kabar Pekanbaru Pos diambil dari nama tempat yang menjadi komunitas news paper (Koran Perkotaan). Sumber beritanya diperoleh antara lain dari kepolisian, Jaksa, Pengacara, DPRD, Pemerintah Kota Pekanbaru, Eksklusif, Korban, Akademis, Tokoh Masyarakaat, LSM dan lain-lain dengan prosedur pemberitaan yang standar seperti berita pada umumnya di surat kabar  lainnya.
Walaupun surat kabar Pekanbaru Pos merupakan surat kabar kriminal yamng baru berdiri, surat kabar Pekanbaru Pos mampu meningkatkan jumlah audiens (pembaca). Awal berdirinya hanya dicetak dengan oplah 3000 eksemplar perhari dengan 12 halaman. Oplah tersebut kini telah mencapai hampir 10000 eksemplar perhari dengan 16 halaman, terdiri dari dua koran, koran pertama 8 halam dan koran kedua 8 halaman. Dengan jumlah halaman berwarna 12  halaman dan halaman tidak berwarna atau hitam putih 4 halaman.
Pembaca surat kabar Pekanbaru Pos sudah tersebar dibeberapa kabupaten Riau, antara lain Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Rikan Hilir, Siak, Dumai.dan Kota Pekanbaru. Wartawan dan koresponden surat kabar Pekanbaru Pos saat ini 17 serta 3 dalam status magang.      
Adapun visi Surat Kabar Pekanbaru Pos sebagai koran meteropolis yang membahas fenomena perkotaan. Misalnya adalah untuk memeberikan anjuran-anjuran atau peringatan-peringatan kepada khalayak tentang sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan, serta memberikan penerapan hukum kepada pembaca dengan motto “Pekanbaru Pos Memang Beda”.
Segmentasi Surat Kabar Pekanbaru Pos adalah kalangan pembaca kelas menengah keatas yaitu kalangan eksekutif, legislatif, politik, ormas, pemberi kebijakan-kebijakan, ekonomi, publik figure, tokoh-tokoh dan lain-lain. Dengan gaya penulisan “what news” yaitu berita memaparkan kejadian atau suatu masalah yang tidak hanya berkaitan pada masalah itu sesuai dengan 5W + 1H  tapi juga menjabarkan dan mempertanyakan  (what news) bagaimana akibatnya setelah kejadian itu terjadi , sehingga memberikan efek yang bakal terjadi pada masyarakat luas yang penulisannya tidak begitu panjang.


  1. Susunan Organisasi Surat Kabar Riau Pos
Struktur organisasi adalah suatu bentuk rangkaian yang mewejudkan pola tetap hubungan kerja maupun orang-orang yang mewujudkan kedudukan wewenang dan tanggung jawab masing-msing. Oleh karena itu struktur organisasi sangat penting bagi suatu perusahaan atau instansi.
Oleh sebab itu demi kelancaran visi dan misi suatu pekerjaan pada perusahaan Harian Umum Pekanbaru Pos, maka perusahaan ini membentuk suatu struktur organisasiyang terdiri dari berbagai bagian yang saling berhubungan satu sama lainnya serta menjalin kerjasama yang baik. Adapun bentuk atau bagian dari struktur organisasi perusahaan Harian Umum Pekanbaru Pos:

Chairman                                                               : H Rida K Liamsi
Presiden Komisaris                                               : H Makmur SE,Ak, MM
Wakil Presiden Komisaris                                     : Drs H Sutrianto
Komisaris                                                              : Kazzaini Ks
Direktur/GM                                                         : H Yurmalis Khatib SH
Pimpinan Redaksi                                                 : Saidul Tombang
Pemimpin Perusahaan                                           : H Romy T Abram
Dewan Redaks                                                      : Saidul Tombang (ketua)
                                                                                Adnan Buyung
                                                                                Afriyunur
                                                                                Arif Rahman
                                                                                Efendi Aqil 
Tim Ombudsmen                                                  : Herianto SE
                                                                                Akmal Famajra
                                                                                Syamsul Bahri Samin
                                                                                Moeslim Kawi



Divisi Produksi
Redaktur Pelaksana                                              : Adnan Buyung
Pj Koordinator Liputan                                         : M Syaifullah
Redaktur                                                               : Ismardiansyah Putra
                                                                                Wan Zakia
                                                                                Yudi Waldi
                                                                                Widiarso (Foto)
Liputan Pekanbaru                                                : Safari Al Royyan
                                                                                Defri Masri
                                                                                Didi Wirayuda
Liputan Jakarta                                                     : Afni Zulkifli
Liputan Daerah                                                     : Marditono (Dumai)
                                                                                Kasmedi (Rengat)
                                                                                Amri (Pangkalan Kerinci)
                                                                                Indra Effendi (Indragiri Hilir)
                                                                                Effendi (Siak)
Sekretaris Redaksi                                                            : Mardian Rista Rez
                                                                                Hermanto (staf)
Departemen Perwajahan dan Pracetak                 : Wandriono (Pj Kabag)
                                                                                Fadil Gunawan (Layout)
                                                                                Joko Purnomo (Desain Grafis)
Mounting                                                              : Sari Alam

Divisi Usaha                                                                                  
Manager Pemasaran                                              : H Romy T Abram
Manajer Iklan                                                        : Dewi Murniati

 Sekian contoh laporan magang mahasiswa jurnalistik. semoga bermanfaat 



Monday, 14 August 2017

Dinamika Komunikasi Cyber


Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan dan saling memberi makna. Jadi komunikasi yang dilakukan bersifat antarpribadi. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi minimal terjadi pada dua orang yang saling bertukar makna.Ada banyak bentuk komunikasi yang bisa kita lakukan, tak terbatas dengan komunikasi antarpribadi.
Kini, teknologi komunikasi telah merasuki dalam setiap sendi kehidupan masyarakat. Tak bisa dipungkiri,  telah terjadi penetrasi teknologi komunikasi tidak hanya secara luas, tapi juga mendalam. Maksudnya ia tidak hanya mengimplikasi masyarakat dengan koverasi yang luas semata, tapi juga hingga mengakibatkan perubahan susunan konfigurasi masyarakat. Ashadi Siregar (2008) pernah berujar,  teknologi komunikasi mampu mengubah susunan konfigurasi masyarakat dari agraris, industry, hingga informasi. Apalagi internet, salah satu bentuk teknologi komunikasi ini begitu masif dikonsumsi oleh masyarakat.
Dalam data internetworldstat.com pada 2011, Indonesia mencatatkan dirinya sebagai Negara dengan pengguna internet terbesar kelima se-Asia. Berturut-turut dari yang pertama, posisinya ditempati oleh Cina, Jepang, India, dan Korea Selatan. Dengan pengguna internet yang mencapai 30 juta orang dan kemungkinan terus bertambah dengan pesat setiap tahunnya, bukan nya tidak mungkin akan berimplikasi pada kehidupan sosio-kultur masyarakat.
Internet begitu didengung-dengungkan sebagai pembawa nilai-nilai demokratis dengan segala macam informasi yang dibawa. Informasi tidak lagi dipandang sebagai sebuah komoditas yang mahal dan sukar untuk ditransmisikan. Namun, ia kini menjadi sebuah barang bebas. Dalam pandangan ekonomi, informasi bias disetarakan dengan air, udara, dan tanah, yang ketiganya merupakan barang bebas tapi sangat dibutuhkan.
Selain itu Yahoo! juga melakukan survei terhadap perilaku pengguna Internet di Indonesia pada 2009 dan 2010 silam. Dari riset ini, mereka membuat urutan aktivitas online paling populer di Tanah Air, yakni: mengunjungi portal online, membaca berita online, menggunakan email, menggunakan mesin pencari dan menggunakan layanan Internet messenger.
Pada titik ini, sepertinya internet memang diinginkan, baik itu dibutuhkan atau tidak. Pasalnya, internet  menurut saya juga merupakan penanda zaman. Menandai ketercapaian kebudayaan manusia. Paling tidak internet menandai hingga sejauh mana manusia mampu menggunakan teknologi.
Kedua kecenderungan tersebut bisa jadi merupakan contoh yang pas dengan munculnya kampung cyber.  Di Indonesia, kampung Taman, di Yogyakarta merupakan yang pertama menerapkan konsep kampung cyber. Tak khayal, kampung ini menjadi semacam pioneer dalam penggunaan teknologi komunikasi yang berbasis civil society.
Kampung Taman, berada di tengah kota. Kepadatan penduduknya pun terbilang padat. Selain itu, areal kampung Taman terintegrasi dengan objek wisata Taman Sari. Kekuatan ekonomi masyarakatnya sebagian besar bergantung pada penjualan batik. Hal ini tentu juga berkorelasi dengan areanya yang tegabung dengan objek pariwisata. Otomatis masyarakat kampung Taman sangat sering bersinggungan dengan wisatawan baik asing maupun lokal yang acapkali berlalu-lalang di kampung meraka.
Hal tersebut menunjukan, seharusnya segenap warga memiliki pemikiran yang terbuka. Maksudnya dengan sering bersinggungannya dengan elemen selain didalam masyarakat itu sendiri mengakibatkan mereka menjadi lebih mudah menerima segala macam perubahan. Perubahan ini baik yang bersifat makro seperti susunan konfigurasi masyarakat. Atau hanya sekadar perubahan mikro seperti peubahan pada taraf individu dalam memandang suatu persoalan.
Kondisi yang demikian ditambah dengan adanya penggunaan internet yang masif dalam lingkup komunitas, tentunya semakin menambah keterbukaan pikiran warga. Keterbukaan berpikir ini bisa dimaknai menjadi dua hal. Pertama, masyarakat telah mengalami pendewasaan karakter, atau kedua, justru masyarakat terlalu mudah untuk diiming-imingi bujuk rayu modernitas. Alhasil warga hanya anut grubyuk  pada zaman. Dengan kata lain, telah terjadi cultural shock pada masyarakat itu sendiri, baik disadari atau tidak.
Masyarakat maya membangun dirinya dengan sepenuhnya mengandalkan interaksi sosial dan proses sosial dalam kehidupan kelompok (jaringan) intra dan antar sesama anggota masyarakat maya.
Proses sosial dan interaksi sosial dalam masyarakat maya ada yang bersifat sementara dan  ada dalam waktu yang relatif lama dan menetap. Sifat dan interaksi sosial mereka ditentukan oleh kepentingan mereka dalam dunia maya. Interaksi sosial sementara, terjadi pada anggota masyarakat yang sepintas lalu ingin “jalan-jalan” dan hanya bermain di dunia maya melalui browsing dan chatting, atau search misalnya untuk keperluan pencarian data tugas, data umum, dan sebagainya.
Seperti layaknya kehidupan di dunia nyata, komunitas-komunitas virtual di internet juga memiliki kehidupannya sendiri. Di dunia maya mereka bisa saling berinteraksi dan berkomunikasi. Tidak jarang komunikasi yang mereka lakukan dengan sesama masyarakat di dunia maya akan membentuk suatu jalinan hubunganantarpribadi diantara mereka. Bahkan tidak jarang diantara mereka bisa saling jatuh cinta, bahkan patah hati. Walaupun saat ini belum dimungkinkan adanya kontak fisik seperti memukul, memeluk, dan tindakantindakan fisik lainnya, komunikasi tetap dapat berjalan dengan relatif sempurna.
Melalui   internet   kita   dapat berkomunikasi dengan orang lain di hampir seluruh bagian dunia dalam waktu bersamaan secara online, melalui teks tertulis. Kedekatan fisik yang sering dikaitkan dengan definisi komunikasi dalam sebagian besar teori komunikasi berganti dengan kedekatan tanpa batas dalam dunia internet. Kebanyakan komunikasi yang terjadi di internet hanya mengandalkan teks sebagai alat komunikasi. Dalam sebuah komunikasi berbasis komputer yang ”dingin” tanpa bahasa nonverbal dan ekspresi, sebuah kalimat dapat diartikan bermacam-macam.

Komunikasi Verbal
Di era postmodern ini, masyarakat yang melek teknologi tidak hanya menggunakan dunia maya sebagai tempat  untuk berkomunikasi saja, namun lebih dari itu. Komunikasi yang dilakukan berkembang ke arah over-expose, yaitu kegandrungan untuk mengomunikasikan (memamerkan, memperlihatkan, mendiskusikan) apapun yang dapat dikomunikasikan.
Segala sesuatu baik itu bidang politik, agama, seksualitas, tubuh, anak-anak, bahkan kematian disemiotisasikan dalam bentuk oversemioticisation, segala sesuatu dijadikan tanda dalam bentuk over-signification, segala sesuatu dikomunikasikan dalam bentuk over-communication. Dalam dunia semiotik, ketika segala sesuatu dijadikan sebagai tanda di dalam wacana oversignified, yang berubah dan berganti dalam kecepatan tinggi, maka makna itu sendiri tidak mungkin lagi ditangkap, dan nilai-nilai di baliknya tidak mungkin lagi dicerna. Yang kita dapatkan adalah sebuah komunikasi yang mengalir secara bebas tanpa tujuan yang pasti. Contoh sederhananya adalah ketika kita sedang chatting dengan teman atau kenalan kita di situs facebook.
Terkadang komunikasi yang dilakukan hanyalah sekadar basa-basi atau hanya untuk mengisi waktu luang. Bisa juga hanya digunakan sebagai sarana untuk memperluas pergaulan. Demikian juga halnya dengan memberikan informasi kepada teman-teman dalam daftar list.   teman kita apa yang kita pikirkan, rasakan dan kegiatan yang kita lakukan.
Namun tak jarang juga pesan yang kita sampaikan atau kita publikasikan ke semua orang itu hanya sekadar iseng atau hanya untuk membuat suasana menjadi seru. Kalau bahasa gaulnya hanya buat seru-seruan saja, namun justru yang hanya buat seruseruan saja ini yang berkembang menjadi ketagihan. Sehingga terkesan dari teks yang kita tuliskan itu seolah-olah itulah yang sedang kita alami. Jadi kekaburan makna komunikasi atau apa yang dikomunikasikan tersebut sering kali terjadi.
Sehingga ada benarnya apa yang diungkapkan oleh Jean Baudrillard dengan ungkapan hiperrealitas. Istilah hiperrealitas digunakan untuk menjelaskan kondisi realitas komunikasi yang dianggap melampaui ini, yang dicirikan oleh berbagai bentuk perekayasaan, dan distorsi makna di dalam komunikasi, yang menciptakan semacam “hiperrealitas komunikasi”. Hiperrealitas komunikasi menciptakan suatu kondisi komunikasi, yang di dalamnya kesemuanya dianggaplebih nyata dari pada kenyataan, kepalsuan dianggap lebih benar dari pada kebenaran, isu lebih dipercaya dari pada informasi.
Komunikasi Non Verbal
Para partisipan dalam komunikasi melalui internet semakin menyadari pentingnya komunikasi nonverbal dalam membentuk dan mengembangkan hubungan dan karenanya melakukan adaptasi isyarat bahasa dan tekstual untuk mengatasi keterbatasan nonverbal berupa isyarat visual dan aural.  Salah  satu  contohnya adalah  simbol-simbol smiley  yang menggabungkan  tanda baca untuk menghasilkan bentuk wajah mini yang dibaca terbalik dari samping untuk meniru ekspresi wajah dan paralinguistik dari komunikasi tatap muka. Komunikasi melalui internet dewasa ini begitu marak semenjak lahirnya berbagai situs jejaring sosial seperti friendster, facebook, fanbox, dan sebagainya.
Akses yang cukup mudah dan berbagai aplikasi yang menarik, membuat situs jejaring sosial tersebut digandrungi masyarakat. Dari semula masyarakat berkomunikasi hanya mengandalkan komunikasi tatap muka, sekarang dengan adanya internet masyarakat tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mengunjungi orang-orang yang akan mereka temui, cukup dengan menekan tombol saja mereka sudah dapat tersambung dengan orang lain. Ini menarik, bila sekilas kita melihat begitu mudahnya kita bertemu dengan orang lain, di sisilainnya tak jarang situs sosial tersebut juga menuai kontroversi.
Perkembangan teknologi komunikasi saat ini memungkinkan manusia berinteraksi dan bekomunikasi di dunia maya. Dunia maya (cyberspace) sendiri merupakan ranah maya yang berisi sekumpulan orang-orang yang terkoneksi melalui komputer dan piranti telekomunikasi tanpa tergantung pada geografi secara fisik. Istilah ini pertama kali diciptakan dan dipopulerkan oleh William Gibson melalui novel ”Neuromancer” yang diterbitkan pada tahun 1984. (Severin James W.Tankard, Jr, 2007: 445).
Dunia maya tidak seperti dunia nyata, di mana yang hanya kita lihat sebatas gambar dan teks. Meskipun di dalamnya terjadi komunikasi antarpribadi, namun komunikasi yang terjadi terbatas jarak dan sekat layar komputer. Tetap kita tidak mengetahui siapa sebenarnya orang yang sedang berkomunikasi dengan kita di dunia maya. Adanya situs jejaring sosial dapat memungkinkan kita terhubung dengan orang-orang yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal.
Begitulah hebatnya teknologi internet yang dapat menghubungkan kita dengan orang lain tanpa perlu membuang tenaga dan waktu hanya untuk bertemu dengan rekan atau teman-teman kita. Begitu mudahnya kita bertemu dengan semua orang, membuat kita tak jarang terlena dibuatnya, dan cenderung untuk memilih berkomunikasi di dunia maya dibandingkan dengan bertemu secara tatap muka.















BAB II
PENUTUP
Kesimpulan
Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan dan saling memberi makna. Jadi komunikasi yang dilakukan bersifat antarpribadi. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi minimal terjadi pada dua orang yang saling bertukar makna.Ada banyak bentuk komunikasi yang bisa kita lakukan, tak terbatas dengan komunikasi antarpribadi.

Saran
Penulis sangat menyadari masih banyak kekuranngan dalam makalah ini yang disebabkan oleh keterbatasan ilmu yang dimiliki. Dengan demikian, diharapkan kepada pembaca untuk membeerikan saran yang sifatnya membangun agar makalh ini menjadi lebih berkualitas, supaya penulisan makalah yang akan datang menjadi lebih baik lagi.











DAFTAR ISI

Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Severin, Werner J James , W. Tankard, Jr. 2005. Teori Komunikasi, Sejarah,  Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.


Saturday, 12 August 2017

ANALISIS PROPAGANDA DAN KAMPANYE



Berikut Analisis Propaganda Yang Bersifat Sosial (Layanan Masyarakat)
1.
   
  Propaganda yang menyuarakan larangan dan bahaya mengkonsusmsi narkoba.

(“I’m OK, Without DRUGS!!!  - Aku Baik-Baik Saja Tanpa Narkoba”)

Narkoba merupakan suatu zat adiktif yang dapat merusak sel saraf  dan dapat melumpuhkan otak bagi setiap orang yang mengkonsumsinya, serta rasa ketergantungan bagi para pencandu narkoba. Biasanya, Pelajar dan Mahasiswa yang  menjadi sasaran para pelaku kejahatan ini. Maka dari itu BNN (badan narkotika nasional) bersama pemerintah kini sedang gencar-gencarnya menyuarakan larangan menggunakan dan mengkonsumsi bagi para pelajar. Karena dapat merusak kesehatan, masa depan dan moral pelajar Indonesia.
Analisis :
·         Bentuk propaganda pada gambar diatas berupa layanan masyarakat.
·         Propaganda membawa dampak yang positif.
·         Sasaran dari propaganda diatas yaitu kepada pelajar dan mahasiswa.
·         Makna tulisan yang terdapat pada propaganda diatas menjelaskan bahwa tanpa narkoba kita bisa meraih prestasi, ketergantungan dengan narkoba dapat berdampak buruk bagi kesehatan dan masa depan para pemuda.
Cara Sosialisasi :
·         Mengadakan seminar anti narkoba di  sekolah-sekolah dan instansi pendidikan lainnya.
·         Memasang poster, sapanduk, ataupun baliho disetiap sekolah.
·         Jika menggunakan baliho dalam mempropagandakannya, hendaklah baliho di tempatkan pada tempat yang strategis dan mudah dibaca.
·         Isi pesan yang menarik dapat menginspirasi bagi setiap  khalayak yang membacanya.

2.      Propaganda yang menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan hidup.


(“Tanamkan Rasa Peduli Lingkungan Sejak Dini”)

Untuk peduli terhadap lingkungan kita bisa mulai dari hal-hal yang sangat sederhana. seperti, menghemat air, menghemat pemakaian listrik, membuang sampah pada tempatnya, dan lain sebagainya. Hal-hal yang sederhana seperti itu terkadang sangat diisepelekan oleh sebagian orang. Dengan menerapkan hal-hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah menumbuhkan rasa peduli kepada liungkungan.   

Analisis :
·         Bentuk propaganda pada gambar diatas berupa layanan masyarakat.
·         Propaganda berdampak positif, baik bagi lingkungan maupun makhluk hidup.
·         Propaganda semacam ini sangat jarang ditemui ditempat-tempat umum.
·         Propaganda bertujuan untuk mengajak seluruh masyarakat agar peduli akan lingkungan, dengan menghemat beberapa sumber energi dan membersihkan lingkungan.
·         Design spanduk yang dibuat sangat menarik sehingga mengalihkan perhatian setiap orang yang melintas untuk melihat.
Cara Sosialisai :
·         Menyebarkan spanduk ditemat-tempat umum yang mudah dibaca oleh khalayak.
·         Menyediakan tempat penampungan sampah di tempat-tempat umum.
·         Memberikan pengetahuan pada masyarakat awam tentang pentingnya menjaga lingkungan dan peduli tehadap lingkungan.
·         Tetap konsisten untuk selalu menyuarakan propaganda ini kepada masyarakat.

·         Membuat slogan-slogan yang menarik dan menginspirasi untuk peduli terhadap lingkungan.

Thursday, 10 August 2017

Sejarah Pers Masa Orde Baru

foto : Ilustrasi Pers Masa Orde Baru

Setelah sebelumnya penulis membahas sejarah pers masa Tionghoa kini penulis coba membahas sedikit tentang pers masa orde baru. 

Media massa adalah hal yang sangat menentukan kehidupan manusia di berbagai aspek, termasuk dalam berbangsa dan bernegara. Pers sebagai salah satu bagian dari media memiliki peranan penting dalam membangun opini masyarakat (opini publik). Antonio Gramsci, seorang Marxis dan pendiri Partai Komunis Italia, berkata-kata tentang hegemoni sebagai “perangkat lunak” yang dimiliki kelas penguasa untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Hegemoni, menurut Gramsci, adalah “kepemimpinan moral dan intelektual”. Melalui agama, pendidikan, surat kabar, dan sebagainya, para produsen ideologi kelas penguasa membentuk sentimen moral dan cara berpikir kelas yang dikuasai. 

Dengan demikian, kelas yang dikuasai (buruh dan rakyat pekerja) menerima begitu saja nilai-nilai moral, sistem pemaknaan, dan logika borjuis alias kelas penguasa. Dengan logika yang sama, tentu teori ini dapat digunakan untuk melawan kelas borjuis itu. 

Maka, negara-negara komunis yang mengedepankan kediktatoran proletariat, bahwa kesetaraan kelas merupakan tujuan akhir komunisme, berpendapat harus ada yang dominan; dalam hal ini Partai Komunis, dan adanya system otoritarian, dimana pers tidak dibiarkan berjalan tanpa adanya sensor dari penguasa (Partai Komunis), agar tujuan akhir tersebut dapat tercapai. 

Di Orde Baru, pemerintahan Soeharto, Kementerian Penerangan saat itu sangat mengekang kebebasan Pers yang sebetulnya sangat dijunjung tinggi oleh negara penyokong Soeharto yakni Amerika Serikat. Negara tersebut sangat menjamin demokrasi, bahkan sampai tertulis di Deklarasi Kemerdekaannya. Telah menjadi rahasia umum, hasil analisa beberapa orang, diantaranya Peter Dale Scott, Profesor Politik dari Universitas di Amerika Serikat menemukan bahwa jatuhnya Soekarno dan naiknya Soeharto yang mengambinghitamkan PKI pada waktu itu adalah hasil dari permainan beberapa pihak dibelakangnya, salah satunya CIA-nya Amerika. 

Indonesia, pada waktu itu telah menjadi semacam medan pertempuran dari Perang Dingin antara dua negara adidaya, Uni Soviet dengan Komunismenya dan Amerika Serikat dengan liberalisme (dan kapitalisme)nya. 

Perkembangan Pers Masa Orde Baru 

Selama masa 4 tahun pertama pemerintahan Orde Baru, meski pemerintah menghadapi berbagai masalah stabilitas dan rehabilitasi keamanan, politik pemerintah dan ekonomi, telah diisi dengan langkah-langkah awal peletakan kerangka dasar bagi pembangunan pers Pancasila. Sebagai langkah awal dalam usaha merumuskan kehidupan pers nasional sesuai dengan dasar Negara Pancasila dan UUD 1945, adalah dengan dikeluarkannya Ketetapan MPRS No. XXXII/MPRS/1966 pada tanggal 6 Juli 1966. 

Kalangan pers menyambut keluarnya ketetapan MPRS tersebut dengan pencetusan Deklarasi Wartawan Indonesia, yang dihasilkan oleh konferensi Kerja PWI di Pasir Putih Jawa Timur pada tanggal 13-15 Oktober 1966. Setelah DPR berhasil merealisasikan UU No. 11/1966 sebagai UU Pokok Pers pada tanggal 12 Desember 1966, masalah selanjutnya adalah mengenai kesepakatan dalam penafsiran dari UU Pokok Pers tersebut, terutama masalah fungsi, kewajiban dan hak pers itu sendiri. Dalam usaha memantapkan penafsiran serta pelaksanaan UU Pokok Pers dalam praktiknya, dibentuklah Dewan Pers. 

Dewan Pers merupakan pendamping pemerintah untuk bersama-sama membina pertumbuhan dan perkembangan pers nasional. Tahap selanjutnya adalah tahap pemantapan menuju tahap pemapanan diri dalam pers nasional. Pada tahap ini upaya yang dilakukan adalah penerapan mekanisme interaksi positif antara pers, masyarakat dan pemerintah. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto sangat dibatasi oleh kepentingan pemerintah. Pers dipaksa untuk memuat setiap berita harus tidak boleh bertentangan dengan pemerintah, di era pemerintahan Soeharto, kebebasan pers ada, tetapi lebih terbatas untuk memperkuat status quo, ketimbang guna membangun keseimbangan antar fungsi eksekutif, legislatif, yudikatif, dan kontrol publik (termasuk pers). 

Karenanya, tidak mengherankan bila kebebasan pers saat itu lebih tampak sebagai wujud kebebasan (bebasnya) pemerintah, dibanding bebasnya pengelola media dan konsumen pers, untuk menentukan corak dan arah isi pers. Terjadinya pembredelan Tempo, Detik, Editor pada 21 Juni 1994, mengisyaratkan ketidakmampuan sistem hukum pers mengembangkan konsep pers yang bebas dan bertanggung jawab secara hukum. Ini adalah contoh pers yang otoriter yang di kembangkan pada rezim orde baru. 

Di masa Orde Baru, khalayak kembali berperan pasif seperti di masa kemerdekaan. Hanya saja kondisi ini bukan dikarenakan minat intelektual masyarakat yang rendah, tetapi lebih disebabkan karena peran pemerintah yang dominan yang mengakibatkan masyarakat tidak dapat dengan bebas menyalurkan gagasan, kreasi, dan pikirannya melalui media. Peran media di masa Orde Baru sebenarnya sudah lebih aktif dibanding pada saat masa Orde Lama. 

Namun, lagi-lagi sistem pemerintahan penjajah masih diterapkan oleh pemerintahan Soeharto. Represi bahkan sudah dijalankan bahkan sejak pada awal era Orde Baru, orde yang menjanjikan keterbukaan. Sejumlah Koran menjadi korban, antara lain majalah Sendi terjerat delik pers, pada 1972, karena memuat tulisan yang dianggap menghina Kepala Negara dan keluarga. Surat ijin terbit Sendi dicabut, pemimpin redaksi-nya dituntut di pengadilan. 

Setahun kemudian, 1973, Sinar Harapan, dilarang terbit seminggu karena dianggap membocorkan rahasia negara akibat menyiarkan Rencana Anggaran Belanja yang belum dibicarakan di parlemen. Pada 1974, setelah meledak Persitiwa Malari, sebanyak 12 penerbitan pers dibredel, melalui pencabutan Surat Ijin Terbit (SIT). 

Pers dituduh telah “menjurus ke arah usaha-usaha melemahkan sendi-sendi kehidupan nasional, dengan mengobarkan isu-isu seperti modal asing, korupsi, dwi fungsi, kebobrokan aparat pemerintah, pertarungan tingkat tinggi; merusak kepercayaan masyarakat pada kepemimpinan nasional; menghasut rakyat untuk bergerak mengganggu ketertiban dan keamanan negara; menciptakan peluang untuk mematangkan situasi yang menjurus pada perbuatan makar. 

Pencabutan SIT ini dipertegas dengan pencabutan Surat Ijin Cetak (SIC) yang dikeluarkan oleh Laksus Kopkamtib Jaya Pemberangusan terhadap pers kembali terjadi pada 1978, berkaitan dengan maraknya aksi mahasiswa menentang pencalonan Soeharto sebagai presiden. Sebanyak tujuh surat kabar di Jakarta (Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The Indonesian Times, Sinar Pagi dan Pos Sore) dibekukan penerbitannya untuk sementara waktu hanya melalui telepon, dan diijinkan terbit kembali setelah masing-masing pemilik Koran tersebut meminta maaf kepada pemimpin nasional (Soeharto). 

Proses komunikasi berjalan dengan sangat selektif. Hal ini terlihat dengan adanya golongan yang sangat dominan di dalam proses komunikasi tersebut, yakni pemerintah. Pada era Orde Baru, pemerintahan Soeharto secara cerdik berhasil merumuskan sistem pers baru yang “orisinil” yakni Pers Pancasila, satu labelisasi gaya Indonesia dari konsep development journalism (atau dalam kategori Siebert, Peterson, dan Schramm termasuk dalam jenis social responsibility pers). Konsep “Pers Pembangunan” atau “Pers Pancasila” (sering didefinisikan sebagai bukan pers liberal juga bukan pers komunis) secara resmi dirumuskan pertama kali dalam Sidang Pleno Dewan Pers ke-25 di Solo pada pertengahan 1980-an.

Rumusan tersebut berbunyi: Pers Pembangunan adalah Pers Pancasila , dalam arti pers yang orientasi sikap dan tingkah lakunya berdasar nilai-nilai Pancasila dan UUD 45. Pers Pembangunan adalah Pers Pancasila, dalam arti mengamalkan Pancasila dan UUD 45 dalam pembangunan berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, termasuk pembangunan pers itu sendiri. Hakekat Pers Pancasila adalah pers yang sehat, yakni pers yang bebas dan bertanggungjawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang benar dan obyektif, penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang konstruktif. 

Melalui hakekat dan fungsi itu Pers Pancasila mengembangkan suasana saling percaya menuju masyarakat terbuka yang demokratis dan bertanggungjawab Istilah Pers Pancasila merupakan cerminan keinginan politik yang kuat dan ideologisasi korporatis saat itu yang menghendaki pers sebagai alat pemerintah. Akibatnya fungsi pers sebagai “penyebar informasi yang benar dan obyektif, penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang konstruktif”—seperti didefinisikan dalam Pers Pancasila, tidak bisa terwujud. Pers Indonesia periode akhir 1970-an hingga 1998 semata-mata menjadi corong (mouthpiece) pemerintah, kehilangan independensi dan fungsi kontrolnya. Berbagai pembatasan yang dibuat rezim Soeharto membuat wartawan tak bebas menulis. Pada era ini lah muncul apa yang disebut–secara sinis—sebagai “budaya telepon”. 

Peringatan melalui telepon ini bisa dilakukan oleh siapa saja di kalangan aparat pemerintah, untuk mencegah media menulis laporan tertentu yang tidak disukai pemerintah. Selain itu pada pertengahan 1980-an juga mulai lazim kebiasaan pejabat militer dan pemerintah berkunjung ke kantor redaksi media cetak untuk memberikan “informasi penting” dan ketentuan tak tertulis apa yang boleh dan tidak boleh ditulis. Berbagai bentuk sensorsip ini mendorong pengelola media menggunakan gaya bahasa eufimistik untuk menghindarkan teguran dan pembredelan. 

Lebih jauh lagi pers Indonesia semakin pintar untuk melakukan swa-sensor (self censorship). Akibatnya sebagian besar media cetak saat itu bisa dikatakan menjadi corong pemerintah. Apapun yang dikatakan pejabat tinggi pemerintah dan militer akan dicetak dan dijadikan laporan utama (headline) oleh pers.

Dari penjelasan diatas bisa kita simpulkan pada masa Orde Baru, pemerintahan Soeharto, Kementerian Penerangan saat itu sangat mengekang kebebasan Pers yang sebetulnya sangat dijunjung tinggi oleh negara penyokong Soeharto yakni Amerika Serikat. Negara tersebut sangat menjamin demokrasi, bahkan sampai tertulis di Deklarasi Kemerdekaannya. 

Telah menjadi rahasia umum, hasil analisa beberapa orang, diantaranya Peter Dale Scott, Profesor Politik dari Universitas di Amerika Serikat menemukan bahwa jatuhnya Soekarno dan naiknya Soeharto yang mengambinghitamkan PKI pada waktu itu adalah hasil dari permainan beberapa pihak dibelakangnya, salah satunya CIA-nya Amerika. Indonesia, pada waktu itu telah menjadi semacam medan pertempuran dari Perang Dingin antara dua negara adidaya, Uni Soviet dengan Komunismenya dan Amerika Serikat dengan liberalisme (dan kapitalisme)nya. 

sumber :

http://www.google.com/-perkembangan-pers-orde-lama.co//.... 
Sa’id,Tribuana.1988,Sejarah Pers Nasional, Jakarta : CV Haji Masagung